Jangan Abaikan Sentuhan Dan Ciuman Untuk Si Kecil

PUSTAKAAFAF.COM: Mata anak kecil itu terlihat penuh dendam pada temannya. Pasalnya, ia ingin merebut sepeda yang dipakai temannya.

Jangan Abaikan Sentuhan Dan Ciuman Untuk Si Kecil

PUSTAKAAFAF.COM: Mata anak kecil itu terlihat penuh dendam pada temannya. Pasalnya, ia ingin merebut sepeda yang dipakai temannya. Apakah seorang anak balita punya naluri jahat? Bukankah seharusnya anak kecil berhati polos dan lembut?

Ada faktor yang cukup kompleks pada pola tumbuh seorang anak. Demikian pula ciri yang sudah given (terberi). Alhasil, ada pengaruh faktor internal maupun eksternal. Ada pola asuh orang tua yang selalu memperlihatkan bahasa dan tindakan kekerasan pada sang anak, atau sang anak kurang memperoleh belaian dan ciuman kasih sayang dari kedua orang tuanya. Di lain pihak, sering pula disaksikan seorang ibu yang mencium anaknya dengan penuh kasih sayang “Aduh anak bunda manis sekali, muach….,” ungkap wanita muda itu, sambil mencium pipi sang buah hati. Sang mata anak pun seketika bereaksi dengan matanya berbinar dan rona bahagia dari raut mukanya.

Sayangnya, sesuatu yang kita anggap sepele tapi sangat besar nilainya  ini sering kita abaikan, karena kesibukan dan rutinitas sehari-hari. Bahkan sekedar senyum dan peluk cium ringan pun terabaikan. Bisa jadi Anda memang sayang pada anak hingga melimpahinya dengan benda-benda mahal sebagai tanda bahwa Anda memperhatikan kebahagiaan anak. Tapi, materi saja tidak cukup. Memang secara naluriah orang tua akan memberi sentuhan kasih sayang pada anak sejak dalam kandungan hingga lahir dan pertumbuhannya. Namun, seiring dengan bertambahnya usia anak, disadari atau tidak, orang tua cenderung mengurangi frekuensi sentuhan fisik, yang menjadi suatu bentuk kasih wujud sayang itu.

Biasanya, ungkapan sayang berupa sentuhan fisik ini hanya ditunjukkan saat si anak masih bayi. Mengapa demikian? Mungkin bayi wajahnya lucu, masih polos, menggemaskan, tubuhnya kecil tanpa daya. Tapi, seiring dengan bertambahnya usia, bayi tumbuh menjadi balita yang tingkah lakunya tidak lagi menggemaskan, melainkan mulai bertingkah macam-macam hingga membuat orang tua menjadi kesal. Bila sudah begitu, anak akan dimarahi, atau dicaci, bahkan dipukul karena kenakalannya.

Memang, rasa tanggung jawab seiring dengan bertambahnya usia menjadikan wujud kasih sayang bisa jadi berubah. Malah ada yang mengatakan belaian kasih itu seolah terhenti begitu sang anak mulai belajar mengeja kata, menghafal nama tempat, dan berinteraksi yang membuat kesal pihak lain. Karena itulah anak mulai kenal bentakan dan hardikan.

Bila hal tersebut menjadi faktor dominan yang mengiri pertumbuhannya, ungkapan sayang berupa peluk dan ciuman yang diberikan saat kecil boleh jadi tidak akan membekas. Sebaliknya, kekerasan fisik dan psikislah yang tertanam dalam dirinya, hingga kelak dewasa nanti. Padahal sampai kapan pun anak akan terus membutuhkan ungkapan kasih sayang meski dengan cara yang berbeda.

Sentuhan fisik pada tiga tahun pertama

Sentuhan fisik atau skin to skin contact pada masa bayi memberi dampak yang amat menguntungkan bagi kecerdasan emosi dan koginitif individu. Itulah sebabnya, saat bayi baru dilahirkan langsung di letakkan di dada ibunya sebelum dimandikan. Kontak fisik antara ibu dan bayi akan membentuk emosional dan kelekatan yang kuat. Kekuatan inilah yang kelak akan menjadi landasan penting bagi perkembangan emosionalnya.

Anak akan tumbuh menjadi individu yang memiliki basic trust yang kuat sehingga menumbuhkan rasa aman dan nyaman sekaligus citra diri yang positif dalam diri anak. Paling baik jika pelukan dan ciuman yang diberikan melibatkan semua indra seperti perabaan, penglihatan, dan pendengaran. Kalau semua fungsi indra tadi dirangsang secara maksimal, sehingga kemampuan kognitif dan emosi anak pun bisa berkembang optimal.

Hal tersebut sangat efektif pada tiga tahun pertama, karena tenggang waktu inilah otak anak berkembang sedemikian pesat (saling terkaitnya antara pusat-pusat emosi dan pusat perilaku).  Inilah mengapa masa tiga tahun pertama kehidupan anak menjadi sedemikian penting karena sentuhan juga menjadi dasar penting bagi perkembangan emosi anak di kemudian hari.

Kesempatannya untuk merasakan sentuhan penuh kasih sayang orangtua bisa dilakukan lewat bermain dan bercanda yang melibatkan seluruh pancainderanya merupakan modal yang amat berarti bagi anak di tahun-tahun selanjutnya. Ia akan tumbuh menjadi pribadi hangat yang ramah, cepat menyesuaikan diri dengan orang lain, mampu mengendalikan diri dan memorivasi diri untuk berinteraksi dengan banyak orang.

Jika orang tua tidak menjalin keakraban dan kehangatan lewat rangsang sentuhan, bisa dipastikan struktur dasar yang ada dalam otak anak pun akan membentuknya menjadi pribadi yang dingin, kaku, canggung dan sulit bergaul dengan orang lain. Kondisi seperti ini dapat berlanjut hingga anak memasuki masa dewasanya.

Jangan berhenti memberi sentuhan

Setelah usia tiga tahun bukan berarti anak tak membutuhkan sentuhan lagi. Bagaimanapun, basic trust yang telah terbentuk perlu terus menerus mendapat pupuk berupa kedekatan atau interaksi akrab antara anak dengan orang tuanya. Kebiasaan baik memberi skin to skin contact dan eye to eye contact, ternyata berdasarkan penelitian akan membuat anak merasa lebih aman dan nyaman. Secara emosi, ini berarti pembuat kondisi jiwanya tetap terpelihara dan sehat. Anak pun merasakan langsung bahwa kehadirannya diharapkan, disayangi, sekaligus diperhatikan oleh orang tuanya.

Secara emosi, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang stabil, mantap, punya percaya diri dan penuh kasih sayang. Tidak hanya itu, sentuhan penuh kasih sayang yang diberikan orang tua juga akan berdampak secara kognitif pada anak. Bukankah lazimnya sambil memeluk dan membelai kepala anak, orangtua dapat memberi masukan-masukan dalam situasi positif semacam itu akan lebih mudah diproses dalam pikirannya. Memorinya akan mengingat-ingat nasihat tersebut ditengah sentuhan lembut penuh kasih sayang yang membuatnya merasa di sayang dan diperhatikan. Jadi tunggu apa lagi, berikanlah ciuman dan dekapan hangat untuk si kecil Anda.

Sumber: Majalah Paras

Telah dibaca (270) x 

About admin