Memetik Hikmah Hijrah

  PUSTAKAAFAF.COM: Red: Mukhlis Abu Al Mughni (Alumnus Ponpes Ash-Shidiqiyah dan Univ. Al Azhar)  Memetik Hikmah Hijrah Dalam Islam ada tiga bentuk hijrah: Berpindah dari negeri yang penuh kesyirikan ke […]
 

PUSTAKAAFAF.COM: Red: Mukhlis Abu Al Mughni (Alumnus Ponpes Ash-Shidiqiyah dan Univ. Al Azhar)

 Memetik Hikmah Hijrah

Dalam Islam ada tiga bentuk hijrah:

  1. Berpindah dari negeri yang penuh kesyirikan ke negeri Islam, seperti hijrah Rasulullah dan para sahabat dari Makkah (negeri yg penuh kesyirikan kala itu) ke Madinah (negeri Islam).
  2. Berpindah dari Negeri yang menebar teror atau menakutkan ke negri yang aman, sepeti Hijrahnya Rasulullah dan sebagian sahabat ke Habasayah (Etopia).
  3. Meninggalkan segala hal yang dilarang Allah. Sebagaimana dijelasakan dalam sabad Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

( اَلْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ ) رواه البخاري

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala hal yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’ala ” (HR. Al Bukhari)

Hijrah adalah sebuah tonggak sejarah besar dalam perjalanan dakwah Rasulullah saw. Hijrah adalah peristiwa yang sangat menentukan bagi kesuksesan Rasulullah saw. mengemban risalah dalam rangka mengeluarkan manusia dari beraneka kegelapan menuju cahaya kebenaran. Sebelum peristiwa Hijrah terjadi, Rasulullah saw. telah berupya sekuat tenaga untuk mengajak manusia ke jalan Tuhan. Akan tetapi, usaha beliau kurang membuahkan hasil kalau tidak akan dikatakan mengalamai kemandekan dan kegagalan. Berbagai macam tantangan dan cobaan dihadapi Rasulullah saw. selama kurang lebih tiga belas tahun berdakwah di Makkah. Keluhan Rasulullah saw. direkam oleh Allah swt. seperti diucapkan melalui lidah nabi Nuh as. dalam surat Nuh [71]: 5-7

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا(5)فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا(6)وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي ءَاذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا(7)

Artinya: “Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang (5). maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran) (6). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat (7).”

Akhirnya, atas perintah Allah swt. Nabi saw. melakukan hijrah yaitu berpindah dari Makkah ke Madinah. Dan ternyata, di Madinah Rasulullah saw. memperoleh kesuksesan besar dalam berdakwah mengembangkan agama Islam. Hanya dalam waktu sepuluh tahun, seluruh jazirah Arab tunduk di bawah kekuasan Negara Islam yang berpusat di Madinah.

Ada banyak hikmah di balik peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah. Di antaranya;

Pertama, bahwa kegagalan tidak mesti menjadikan seseorang berputus asa dalam berjuang mencapai maksud dan tujuan yang telah ditetapkan. Jika manusia mengalami kegagalan di suatu tempat, di sebuh metode dan cara, maka hendaklah dia mencari tempat, cara atau metode baru dalam mencapai kesuksesan.

Rahmat dan karunia Allah itu tersebar luar, allquran meyakikan.

وَلَا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ(87)

“dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Yusuf ayat 87)

 Kedua: semangat pengorbanan

Ketika akan hijrah, Abu Bakar ash-Shiddiq membeli dua ekor unta yang akan mereka kendarai menuju Madinah. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah! Saya telah membeli dua ekor unta untuk kendaraan kita menuju Madinah. Silahkan engkau pilih mana unta yang engkau sukai dari kedua unta ini!”. Rasulullah menjawab, “Tidak, saya tidak akan menaiki unta yang bukan milik saya”. “Unta ini adalah milik engkau yang Rasulullah, karena saya telah menghadiahkannya untukmu”. Jawab Abu Bakar.

Rasulullah tetap menolak untuk mengendarai unta tersebut, sebelum mengganti harganya seharga yang dibeli oleh Abu Bakar. Akhirnya, Abu Bakar mengalah dan menerima uang dari Rasulullah saw. sebanyak harga dia membeli unta tersebut.

Begitu pula Rasulullah saw bersama Abu Bakar sampai di Madinah, hal pertama yang dilakukan beliau adalah mencari tempat di mana masjid akan dibangun. Setelah mendapatkan lahan yang tepat, pemilik tanah yang akan dijadikan tempat berdirinya masjid tersebut berkata, “Ya Rasulullah! Tanah ini saya wakafkan sebagai tempat pembangunan masjid”. Namun, Rasulullah menolak sambil berkata, “Saya akan membangun masjid di atas tanah yang saya beli dengan harta saya”. Akhirnya, pemilik tanah tersebut menjual tanah itu kepada Rasulullah untuk kemudian dijadikan tempat pembangunan masjid Nabi.

Dari kisah tersebut, ada hal yang ingin diajarkan Rasulullah kepada umatnya, bahwa untuk mencapai sesuatu yang besar perlu ada pengorbanan. Tidak akan ada kesuksesan besar, tanpa adanya kesediaan untuk berkorban. Buknakah kta hijrah dan perjuangan selalu seringkali dikaitkan dengan pengorbanan harta bahkan nyawa? Lihatlah firman Allah dalam surat at-Taubah [9]: 20

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”

Ketiga : Konsep pemahaman tawakal yang benar

Jika kita ingin belajar tawakal dengan benar maka lihatlah kisah hijrah Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menampakkan sikap tawakal dan mengambil sebab-sebabnya.

Dalam hijrah tersebut Nabi shallallahu alaihi wasallam mengambil sebelas sarana (rencana) yang menjadi sebab-sebab yang mengantarkan pada kemenangan dan keselamatan, beliau tidak meninggalkan planingnya sama sekali… beliau keluar dari rumahnya di akhir malam agar tidak diketahui oleh kaum kafir, kemudian beliau pergi ke rumah Abu Bakar di pertengahan siang hari, dimana Abu Bakar berkata, “Beliau mendatangi kami di waktu yang tidak biasanya beliau datang kepada kami” hal itu dilakukan untuk mengelabui kaum kafir.

Nabi pun mengabarkan perintah hijrah kepada Abu Bakar, maka keduanyapun keluar dari pintu belakang rumah, beliau mengambil jalan arah utara—padahal Madinah terletak di arah selatan— agar jejak keduanya tidak bisa dilacak oleh orang-orang musyrik yang menyisir jalan arah selatan ke kota Madinah. Kemudian keduanya bersembunyi di dalam goa Tsur selam tiga hari lebih dengan penuh kehati-hatian. Sementara Abdullah bin Abu Bakar bertugas sebagai informan yang membawa kabar tentang orang-orang Quraisy, sementara Asma bertugas membawakan makanan dan minuman kepada keduanya.

Lihatlah sebuah perencanaan yang matang…tidak seorang quraisy pun yang dapat membaca perencanaan ini…sampai pada Asma binti Abu Bakar juga tidak seorang pun menyangka wanita ini yang kondisinya sedang hamil tujuh bulan….

Anda telah meyaksikan bagaimana perencanaan orang yang tawakal kepada Allah.

Lalu bagaimana dengan bekas-bekas jejak kaki Asma ini, Abu Bakar memerintahkan penggembala kambingnya, Abdullah bin Fahirah agar gembalaan kambing-kambingnya setiap hari melewati jalan yang biasa dilalui oleh Asma, seakan-akan memang dia menggemabla dan tidak ada satupun yang meragukannya.

Akan tetapi setelah perencanaan ini, apakah kaum kafir berhasil menyusul Rasulullah dan Abu Bakar?  Mereka nyaris menemukan keduanya dan mereka telah berdiri di mulut gua… mungkin dalam benak kita terbesit, tidak masuk akal setelah semua perencanaan matang ini kaum kafir  bisa mencapai tempat persembunyian keduanya?

Itu logika manusia… akan tetapi logika Allah Al Wakil sengaja menghendaki agar kaum kafir sampai di tempat persembunyian Rasulullah dan Abu Bakar, untuk mengajarkan kepada Nabi dan kita semua arti tawakal kepada Allah, bahwa melakukan sebab-sebab itu wajib akan tetapi jangan mengatakan bahwa sebab-sebab itulah yang menyelamatkannya.

Kaum kafir dan musyrik sampai di depan mulut goa, Abu Bakar berkata kepada Rasulullah, “Jika salah seorang mereka melihat ke bawah kedua telapak kakinya pasti akan melihat kita.” Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab untuk menenangkannya, “Bagaimana menurutmu dengan dua orang semnetara Allah yang ketiganya, jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita.”

Inilah arti tawakal yang harus kita pelajari dan tanamkan di dalam jiwa kita untuk menghilangkan deprsi yang menguasai para pemuda usia dua puluh tahunan karena khawatir dengan masa depannya, serahkan dan pasrahkan kepada Allah, tawakallah kepada-Nya dan lakukanalah sebab-sebabnya. Dengan sikap lapang ini akan banyak problematika teratasi.

Begitulah cara yang paling tepat untuk bertawakal. Bahwa tawakal dilakukan setelah sebelumnya ada perancaan yang matang dan usaha yang maksimal, barulah kemudian menyerahkan hasil dan keputusannya kepada Allah. Jika tidak ada perencaaan dan usaha, maka tawakkal dalam hal ini adalah sesuatu yang keliru.

Keempat: ketika Nabi saw. telah sampai di Madinah, maka hal pertama yang dilakukan beliau adalah membangun Masjid sebagai tempat peribatan dan penyembahan kepada Allah, sekaligus menjadi sentral kegiatan dakwah beliau. Hal itu memberikan pelajaran kepada kita, bahwa jika ingin sukses dalam berjuang dan mencapai cita-cita, maka hendaklah memulainya dengan beribadah (bersujud). Sebab, sujud atau ibadah akan membuat seseorang memiliki keyakinan yang besar akan pertolongan dan bantuan Allah, sehingga kalaupun nanti dia menemui berbagai kesulitan dan tantangan dia akan tetap semangat menghadapinya. Kalaupun, nanti dia sukses maka kesuksesannya itu tidak menjadikannya lupa diri, sehingga muncul sikap sombong dan angkuh dalam dirinya. Karena, dia akan selalu sadar bahwa kesuksesan yang diraihnya adalah berkat bantuan dan pertolongan Allah. Inilah yang disebutkan Allah dalam surat at-Taubah [9]: 109

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya: “Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Kelima:  Yang juga dilakukan nabi setelah sampai di Madinah adalah mepersatukan dan mempersaudarakan kaum Muhajirin (pendatang) dan Anshar (penduduk asli). Sehingga, umat Islam ketika itu sudah menjadi sebuah kesatuan dan memiliki kekuatan yang menjadi cikal bakal kesuksesan dakwah dan perjuangan menegakan kalimat Tauhid di kemudian hari. Melalui hal itu, Rasulullah ingin mengatakan kepada umatnya tentang pentingnya kebersamaan persatuan dalam mencapai suatu maksud. Sebab, tidak akan ada kesuksesan tanpa bantuan dan keikutsertaan pihak lain. Seseorang baru bisa menjadi “bos”, jika ada sebagian orang yang bersedia menjadi bawahannya. Begitulah seterusnya.

Keenam, Hal lain yang dibangun nabi Mauhammad ketika sampai di Madinah adalah pasar sebagai basis ekonomi umat Islam ketika itu. Kenapa Rasulullah saw. membangun pasar? Sebab, apapun bentuknya perjuangan manusia, apalagi dakwah mengajak manusia ke jalan Tuhan, perlu didukung oleh kekuatan ekonomi. Jika ekonomi umat Islam ini bagus, tentulah dakwah akan bisa dijalankan dengan maksimal dan agaknya secara otomatis tingkat keberagamaan umat Islam akan lebih bagus. Bukankah Ali pernah bersabda, “Kefakiran sangat dekat dengan kekukufuran”.

Itulah di antara hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa hijrahnya nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah. Semoga bisa menjadi pelaran bagi kita. Amin.

Telah dibaca (2382) x 

Tags:

About admin